Rabu, 15 Januari 2014

HAM Perspektif Islam

A.    Azasi Manusia dalam Pendidikan Islam
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah dalam kondisi “ahsani taqwiim” mempunyai tiga dimensi hakekat, yaitu unsur jasmani, unsur rohani dan nafsani. Tiga dimensi hakekat ini yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk yang lain. Unsur rohaniyah dalam bahasa Ilmiah kita sebut dengan unsur kejiwaan. Dimana unsur kejiwaan ini akan melahirkan sberbagai macam aspek kejiwaan. Adapun aspek-aspek kejiwaan yang penting ialah aspek moral, intelektual, eestetis, religious dan aspek sosial. Pengertian rohaniah menurut Al-Ghozali dikatakan bahwa hari dan yang lain adalah pusat yang merupakan sumber segala kegiatan kerohanian. Keduanya dalam bahasa arab di sebut dengan qolb. Sehingga qolb rohani ini memiliki kualitas-kualitas berupa kekuatan, kehendak, dan pengetahuan yang semuanya di jelmakan oleh “Lembaga Idrak” atau Tafahum. Lembaga idrak ini dilukiskan oleh Dr. Majid Ursan al-Kailani dalam bukunya Ahdaafut Tarbiyah Al-Islamiyah, halaman 59 sebagai berikut: Lembaga idrak ini menghasilkan keberbagai macam kemampuan-kemampuan misalnya :
a.       Qudratul hikmah 
b.      Qudratul abshor
c.       Qudratul syuhud
d.      Qudratul nadhor
e.       Qudratul tadzakur
f.       Qudratul tafakkur
g.      Qudratul tadabbur
h.      Qudratul ta’wil

Idrak atau tafahum menurut Al-Ghazali dikatakan bahwa tanah dan semua yang ada di atasnya dan di bawahnya dalah milik Allah, sedang manusia sebagai khalifah-Nya. Jika idrak itu dimiliki umat manusia, maka kesetiaannya pada Allah akan menjadikan mereka menjadi manusia yang muttaqin (manusia paripurna). Sebaliknya, jika jiwanya diliputi hawa nafsu,
Maka perangkat qolb dan aktifitasnya dilemahkan dan dibekukan oleh Allah, dan secara bertahap mereka akan terbenam ke tingkat hewani (dari kumpulan surat-surat Al Ghozali) Kedua, bahwa manusia itu mempunyai dua macam sifat azasi yaitu sebagai makhluk indiviual (perseorangan) dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individual artinya bahwa manusia itu mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Mereka mempunyai sifat-sifat yang spesifik, yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mausia sebagai makhluk sosial artinya bahwa manusia itu selalu mengadakan inter relationship diantara mereka. Makhuk yang mempunyai gairah untuk hidup bersama dengan manusia lain. Dan mereka selalu memiliki naluri ber “jama’ah” (berkelompok) Ketiga, bahwa manusia itu mempunyai hakekat sebagai makhluk susila atau makhluk ber-Tuhan. Artinya manusia itu mempunyai sifat atau dikaruniai sifat untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik menurut ukuran kesusilaan. 
B.      Pandangan Islam tentang Kedudukan Manusia.
a.       Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian alam, Tuhan telah melengkapi manusia dengan potensi-potensi rohaniyah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain, terutama potensi akal, maka pada manusia juga dibebani tugas untuk memelihara alam dan melestarikannya serta dilarang untuk merusaknya.  Artinya : "Maka apabila telah selesai mengerjakan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya,mudah-mudahan kamu beroleh kemenagan.
b.      Sebagai makhluk yang bertanggung jawab Setelah dengan kemampuan akalnya manusia meneliti, dan kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya manusia dan alam semesta ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah, maka sebagai konsekuensinya diberika kedudukannya yang istiniewa oleh Allah, maka manusia juga dituntut bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuat di atas dunia kelak di akherat. Firman Allah dalam surat At-Takatsur ayat 8 sebagai berikut :  Artinya : “Kemudian, sesungguhnya kamu akan diperiksa di hari itu dari segala yang telah kamu terima”.
c.       Sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik Latar belakang yang membelakangi mengapa Malaikat mau menghormat kepada Nabi Adam tidak lain adalah karena Nabi Adam mempunyai ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka anak turun nabi adam pun bisa dididik. Dan inilah mula pertamanya munculnya  tarbiyah (pendidikan) dalam sejarah umat manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang dapat dididik dapat difahami dari firman Allah sebagai berikut :  Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhya, kemudian mengemukakan kepada Malaikat, lalu Allah berfirman : "Sebut-kanlah kepada Ku nama benda-benda itu jika kamu orang-orang yang beriman" (QS. Al-Baqoroh : 31) 
C.     Pola Pendidikan Islam.
Dalam Al-Qur'an ada satu surat yang bernama surat Luqman, dimana Tuhan memberikan contoh  tentang pola pendidikan Islam  yang harus dilaksanakan oleh orang tua terhdap anak-anak mereka, sebagai mana yang sudah dilakukan oleh Luqman Hakim terhadap anak-anaknya di zaman purbakala. Pokok-pokok yang dikemukakan oleh Luqman Hakim dalam nasehat kepada anaknya itu, dalam garis besarnya terdiri dari lima aspek, yaitu
a.       Pendidikan Aqidah (Tauhid)
"... Hai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sebab perilaku syirik itu adalah satu aniaya (dosa) yang besar" (Luqman : 13)  Persoalan " Jangan mempersekutukan Allah" (syirik) itu, yang dalam ajaran Islam masuk dalam bidang Tauhid Aqidab, adalah merupakan landasan pokok dalam kehidupan manusia. Tidak heran apabila masalah tersebut diletakkan pada nomor satu dalam urutan rangkaian nasehat tersebut. Tauhid membentuk jiwa dan sikap hidup manusia hanya percaya kepada Allah semata-mata, kepercayaan yang murni. Dengan pendidikan Tauhid anak-anak akan mempunyai pegangan, tidak.kehilangan kompas dalam situasi yang bagaimanapun, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Sebab mereka percaya sepenuhnya, bahwa segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan ini, datangnya dari Yang Maha Kuasa dan akan kembali kepada-Nya pula.
b.      Pendidikan berbakti (Ubudiyah) 
 "Hai anakku! Tegakkanlah sembahyang (shalat) (Luqman : 17) Dari urutan ini dapat dipahamkan, bahwa setelah seorang anak setelah mempunyai landasan yang kuat dalam kehidupannya, haruslah dididik supaya dia berbakti kepada Tuhan dengan mengerjakan shalat. Sebab shalat itu, selain sebagai tatacara ubudiyah dan berbakti kepada Allah, menunjukkan syukur atas nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya, pun pengaruh shalat itu membawa nilai-nilai yang menguntungkan kepada mnanusia sendiri dalam kehidupan di dunia ini, baik menyangkut dengan soal-soal jasmaniah maupun rohaniah. Umpamanya, melatih kebersihan, kesehatan, disiplin, konsentrasi dan lain sebagainya. Disebutkan shalat saja hanyalah sebagai contoh, sedang ibadah-ibadah lainnya seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain tidaklah dapatdipisahkan dari rangkaian ubudiyah pokok.
c.       Pendidikan kemasyarakatan(Amar Ma'ruf Nahi Munkar)
"Suruhlah mengerjakan (perbuatan) yang ma'ruf (baikbaik), dan laranglah dari (perbuatan) yang munkar (buruk)"


d.      Pendidikan mental (Nafsiyah)
Disebutkan dalam sambungan ayat itu :  "Dan berlaku sabarlah (teguh hati) menghadapi peristiwa (musibah) yang menimpa engkau. Sesumgguhnya (sikap) yang demikian itu termasuk perintah yang sungguh-sungguh"  Sikap sabar dan teguh hati mengarungi gelombang hidup, terutama menghadapi musim pancaroba, adalah satu sikap mental yang diperlukan untuk mencapai sukses dan kemenangan dalam setiap usaha dan perjuangan. Keteguhan hati dapat membentuk kemauan yang keras, membaja-kan cita-cita, mengalirkan aktivitas dan dinamika, meng-hilangkan semangat lesu dan pesimisme, dan lain sebagainya.
e.       Pendidikan budi pekerti (Akhlaq)
Disebutkan lebih jauh pada sambungan ayat itu : “Janganlah engkau memalingkan muka dari manusia karena kesombongan"  
D.    Teori tentang Fitrah
a.       Madzhab pertama
Fitrah yang disebut dalam ayat dan hadits di atas mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme. Kata Fitrah berasal dari Fi'i1 madli "fathara" yang berarti "menjadikan". Jadifitrah mengandung makna "kejadian" yang di dalamnya berisi potensi-potensi dasar beragama yang benar dan lurus (ad-dinul qoyyim) yaitu Islam. Potensi dasar itu tidak dapat diubah oleh siapapun atau oleh lingkungan yang bagaimanapun bentuknya. Karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.   Artinya : "Setiap orang yang dilahirkan oleh ibunya atas dasar fitrah, maka setelah itu orang tuanya mendidik menjadi beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi. Jika kedua orang tuanya itu beragama, maka anaknya akan menjadi Islam" (HR. Muslim, dalam As-shohih II.p.459)    Artinya : "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui sesuatu apapun dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati ..." Penulis berpendapat bahwa manusia yang lahir dari perut ibu sudah dibekali oleh Allah dengan kemampuan-kemampuan (capabilitas) yang waktu itu belum bisa berfungsi secara sempurna, kemudian karena factor lingkunganyalah maka Kemapmpuan-kemampuan itu kerkembang dengan sempuna. Dalam hal ini, penglihatan, pendengaran dan hati menjadi topik sentral hidup dan kehidupan umat manusia. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa alat indera manusia merupakan jendela "ilmu pengetahuan". 
E.     Tahap-Tahap Perkembangan Psikologi Anak Didik
Menurut Jean Jacques Rousseau (1712 s/d 1778), bahwa perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam lima tahapan, yaitu:
a.       Tahapan perkembangan masa bayi (sejak lahir 2 tahun) Dalam tahap ini perkembangan pribadi didominasi oleh perasan. Perasaan senang dan tidak senang selalu berkembang karena adanya stimuli lingkungannya.
b.      Tahapan perkembangan masa kanak-kanak (2 s/d 12 tahun ) Dalam tahap ini, perkembangan pribadi anak dimulai dengan makin berkembangnya fungsi-fungsi indera anak untuk mengadakan pengamatan. Bahkan sering dikatakan bahwa pekembangan setiap aspek kejiwaan anak pada masa ini sangat didominasi oleh pengamatannya. Pada masa-masa ini, sebaiknya kita mengadakan bimbingan dan pembinaan fungsi dari indera, yaitu untuk mengetahui kelebihan apa yang dimiliki anak didik berdasar pada perkembangan pengamatannya. Maka hendaknya melatih anak didiknya, misalnya, telinga digunakan untuk mendengarkan kalam-kalam Allah, mata digunakan untuk muthola'ah dan munadhoroh (untuk studi dan meneliti), mulut kita gunakan untuk bertasbih dan berdzikir pada Allah, dan seterusnya.
c.       Tahapan perkembangan masa pre-adolesen (12 s/d 15 tahun) Pada tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Dengan adanya pertumbuhan sistem syaraf serta fungsi pikir, maka anak mulai kritis dalam menanggapi suatu ide atau pengetahuan dari orang lain.
d.      Tahapan perkembangan masa adolesen (15 s/d 20 tahun) Dalam tahap perkembangan yang keempat ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat. Masamasa seperti inilah yang dalam bahasa Al-Qur'an disebut masa "zinah” (masaberhias). Karena pada masa ini seseorang mulai tertarik kepada orang yang berlainan jenis.
e.       Masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun) Dalam tahap ini, perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi, yaitu pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, pemuasan keinginan masyarakat. Semua itu, akan direalisasikan oleh individu tersebut dengan belajar mengandalkan kehendaknya. Di bawah ini akan diuraikan tentang perkembangan pribadi secara luas dari berbagai pendapat. Pentahapan perkembangan itu sebagai berikut :
1.      Tahap kematangan pre-natal (antara umur 2,5 bulan s/d 9 bulan)
2.      Tahap perkembangan vital (sejak lahir-umur 2 tahun)
a)      Perkembangan motoric
b)      Perkembangan psikologid
c)      Prkembangan fungsi-fungsi sosial
3.      Tahap perkembangan ingatan (umur 2 s/d 3 tahun)
4.      Tahap perkembangan ke-aku-an (umur 3 s/d 4 tahun)
5.      Tahap perkembangan pengamatan (umur 4 s/d 6 tahun)
6.      Tahap perkembangan intelektual (umur 6-12 tahun atau 7-13 tahun)
7.      Tahap perkembangan pra remaja (umur 13 s/d 16 tahun)
8.      Tahap perkembangan remaja (antara umur 16-20 tahun)



DAFTAR PUSTAKA
Al-Hamid Zaih Husen. 1987.
Pendidikan Anak Menurut Islam,
Jakarta. Pustaka Alami Gunarsa, Singgih D (ed), 1983.
Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,
Jakarta : BPK Gunung Mulia Ishom Achmadi ZE, Moch., Drs.,

Kaifa Nurabbi Abnaa’anaa


EmoticonEmoticon

Headline