HAM Perspektif Islam
A.
Azasi
Manusia dalam Pendidikan Islam
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah dalam kondisi “ahsani
taqwiim” mempunyai tiga dimensi hakekat, yaitu unsur jasmani, unsur rohani dan
nafsani. Tiga dimensi hakekat ini yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk
yang lain. Unsur rohaniyah dalam bahasa Ilmiah kita sebut dengan unsur
kejiwaan. Dimana unsur kejiwaan ini akan melahirkan sberbagai macam aspek
kejiwaan. Adapun aspek-aspek kejiwaan yang penting ialah aspek moral,
intelektual, eestetis, religious dan aspek sosial. Pengertian rohaniah menurut
Al-Ghozali dikatakan bahwa hari dan yang lain adalah pusat yang merupakan
sumber segala kegiatan kerohanian. Keduanya dalam bahasa arab di sebut dengan qolb.
Sehingga qolb rohani ini memiliki kualitas-kualitas berupa kekuatan, kehendak,
dan pengetahuan yang semuanya di jelmakan oleh “Lembaga Idrak” atau Tafahum. Lembaga
idrak ini dilukiskan oleh Dr. Majid Ursan al-Kailani dalam bukunya Ahdaafut
Tarbiyah Al-Islamiyah, halaman 59 sebagai berikut: Lembaga idrak ini
menghasilkan keberbagai macam kemampuan-kemampuan misalnya :
a.
Qudratul
hikmah
b.
Qudratul
abshor
c.
Qudratul
syuhud
d.
Qudratul
nadhor
e.
Qudratul
tadzakur
f.
Qudratul
tafakkur
g.
Qudratul
tadabbur
h.
Qudratul
ta’wil
Idrak atau tafahum menurut Al-Ghazali dikatakan bahwa tanah dan semua yang ada di atasnya dan di bawahnya dalah milik Allah, sedang manusia sebagai khalifah-Nya. Jika idrak itu dimiliki umat manusia, maka kesetiaannya pada Allah akan menjadikan mereka menjadi manusia yang muttaqin (manusia paripurna). Sebaliknya, jika jiwanya diliputi hawa nafsu,
Maka perangkat
qolb dan aktifitasnya dilemahkan dan dibekukan oleh Allah, dan secara bertahap
mereka akan terbenam ke tingkat hewani (dari kumpulan surat-surat Al Ghozali)
Kedua, bahwa manusia itu mempunyai dua macam sifat azasi yaitu sebagai makhluk
indiviual (perseorangan) dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individual artinya
bahwa manusia itu mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Mereka mempunyai sifat-sifat
yang spesifik, yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mausia sebagai
makhluk sosial artinya bahwa manusia itu selalu mengadakan inter relationship
diantara mereka. Makhuk yang mempunyai gairah untuk hidup bersama dengan
manusia lain. Dan mereka selalu memiliki naluri ber “jama’ah” (berkelompok)
Ketiga, bahwa manusia itu mempunyai hakekat sebagai makhluk susila atau makhluk
ber-Tuhan. Artinya manusia itu mempunyai sifat atau dikaruniai sifat untuk
dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik menurut ukuran
kesusilaan.
B.
Pandangan Islam tentang Kedudukan Manusia.
a.
Sebagai
pemanfaat dan penjaga kelestarian alam, Tuhan telah melengkapi manusia dengan
potensi-potensi rohaniyah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain,
terutama potensi akal, maka pada manusia juga dibebani tugas untuk memelihara
alam dan melestarikannya serta dilarang untuk merusaknya. Artinya : "Maka apabila telah selesai
mengerjakan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah
karunia Allah dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya,mudah-mudahan kamu
beroleh kemenagan.
b.
Sebagai
makhluk yang bertanggung jawab Setelah dengan kemampuan akalnya manusia
meneliti, dan kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya manusia dan alam
semesta ini semata-mata untuk beribadah kepada Allah, maka sebagai konsekuensinya
diberika kedudukannya yang istiniewa oleh Allah, maka manusia juga dituntut
bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuat di atas dunia kelak di akherat.
Firman Allah dalam surat At-Takatsur ayat 8 sebagai berikut : Artinya : “Kemudian, sesungguhnya kamu akan
diperiksa di hari itu dari segala yang telah kamu terima”.
c.
Sebagai
makhluk yang dapat dididik dan mendidik Latar belakang yang membelakangi
mengapa Malaikat mau menghormat kepada Nabi Adam tidak lain adalah karena Nabi
Adam mempunyai ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka anak turun nabi adam pun
bisa dididik. Dan inilah mula pertamanya munculnya tarbiyah (pendidikan) dalam sejarah umat
manusia di muka bumi. Sebagai makhluk yang dapat dididik dapat difahami dari
firman Allah sebagai berikut : Artinya :
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhya, kemudian
mengemukakan kepada Malaikat, lalu Allah berfirman : "Sebut-kanlah kepada
Ku nama benda-benda itu jika kamu orang-orang yang beriman" (QS.
Al-Baqoroh : 31)
C.
Pola
Pendidikan Islam.
Dalam Al-Qur'an
ada satu surat yang bernama surat Luqman, dimana Tuhan memberikan contoh tentang pola pendidikan Islam yang harus dilaksanakan oleh orang tua
terhdap anak-anak mereka, sebagai mana yang sudah dilakukan oleh Luqman Hakim
terhadap anak-anaknya di zaman purbakala. Pokok-pokok yang dikemukakan oleh
Luqman Hakim dalam nasehat kepada anaknya itu, dalam garis besarnya terdiri
dari lima aspek, yaitu
a.
Pendidikan
Aqidah (Tauhid)
"... Hai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sebab
perilaku syirik itu adalah satu aniaya (dosa) yang besar" (Luqman : 13) Persoalan " Jangan mempersekutukan
Allah" (syirik) itu, yang dalam ajaran Islam masuk dalam bidang Tauhid
Aqidab, adalah merupakan landasan pokok dalam kehidupan manusia. Tidak heran
apabila masalah tersebut diletakkan pada nomor satu dalam urutan rangkaian
nasehat tersebut. Tauhid membentuk jiwa dan sikap hidup manusia hanya percaya
kepada Allah semata-mata, kepercayaan yang murni. Dengan pendidikan Tauhid anak-anak
akan mempunyai pegangan, tidak.kehilangan kompas dalam situasi yang
bagaimanapun, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Sebab mereka percaya
sepenuhnya, bahwa segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan ini, datangnya
dari Yang Maha Kuasa dan akan kembali kepada-Nya pula.
b.
Pendidikan
berbakti (Ubudiyah)
"Hai anakku!
Tegakkanlah sembahyang (shalat) (Luqman : 17) Dari urutan ini dapat dipahamkan,
bahwa setelah seorang anak setelah mempunyai landasan yang kuat dalam
kehidupannya, haruslah dididik supaya dia berbakti kepada Tuhan dengan
mengerjakan shalat. Sebab shalat itu, selain sebagai tatacara ubudiyah dan
berbakti kepada Allah, menunjukkan syukur atas nikmat-nikmat yang
dikaruniakan-Nya, pun pengaruh shalat itu membawa nilai-nilai yang
menguntungkan kepada mnanusia sendiri dalam kehidupan di dunia ini, baik
menyangkut dengan soal-soal jasmaniah maupun rohaniah. Umpamanya, melatih
kebersihan, kesehatan, disiplin, konsentrasi dan lain sebagainya. Disebutkan
shalat saja hanyalah sebagai contoh, sedang ibadah-ibadah lainnya seperti
puasa, zakat, haji dan lain-lain tidaklah dapatdipisahkan dari rangkaian
ubudiyah pokok.
c.
Pendidikan
kemasyarakatan(Amar Ma'ruf Nahi Munkar)
"Suruhlah mengerjakan (perbuatan) yang ma'ruf (baikbaik), dan
laranglah dari (perbuatan) yang munkar (buruk)"
d.
Pendidikan
mental (Nafsiyah)
Disebutkan dalam sambungan ayat itu : "Dan berlaku sabarlah (teguh hati)
menghadapi peristiwa (musibah) yang menimpa engkau. Sesumgguhnya (sikap) yang
demikian itu termasuk perintah yang sungguh-sungguh" Sikap sabar dan teguh hati mengarungi
gelombang hidup, terutama menghadapi musim pancaroba, adalah satu sikap mental
yang diperlukan untuk mencapai sukses dan kemenangan dalam setiap usaha dan
perjuangan. Keteguhan hati dapat membentuk kemauan yang keras, membaja-kan
cita-cita, mengalirkan aktivitas dan dinamika, meng-hilangkan semangat lesu dan
pesimisme, dan lain sebagainya.
e.
Pendidikan
budi pekerti (Akhlaq)
Disebutkan lebih jauh pada sambungan ayat itu : “Janganlah engkau
memalingkan muka dari manusia karena kesombongan"
D.
Teori
tentang Fitrah
a.
Madzhab
pertama
Fitrah yang disebut dalam ayat dan hadits di atas mengandung
implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham nativisme. Kata Fitrah
berasal dari Fi'i1 madli "fathara" yang berarti
"menjadikan". Jadifitrah mengandung makna "kejadian" yang
di dalamnya berisi potensi-potensi dasar beragama yang benar dan lurus
(ad-dinul qoyyim) yaitu Islam. Potensi dasar itu tidak dapat diubah oleh
siapapun atau oleh lingkungan yang bagaimanapun bentuknya. Karena fitrah itu
merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun
bentuknya dalam tiap pribadi manusia.
Artinya : "Setiap orang yang dilahirkan oleh ibunya atas dasar
fitrah, maka setelah itu orang tuanya mendidik menjadi beragama Yahudi, Nasrani
dan Majusi. Jika kedua orang tuanya itu beragama, maka anaknya akan menjadi
Islam" (HR. Muslim, dalam As-shohih II.p.459) Artinya : "Dan Allah mengeluarkan kamu
dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui sesuatu apapun dan Ia menjadikan bagimu
pendengaran, penglihatan, dan hati ..." Penulis berpendapat bahwa manusia
yang lahir dari perut ibu sudah dibekali oleh Allah dengan kemampuan-kemampuan
(capabilitas) yang waktu itu belum bisa berfungsi secara sempurna, kemudian
karena factor lingkunganyalah maka Kemapmpuan-kemampuan itu kerkembang dengan
sempuna. Dalam hal ini, penglihatan, pendengaran dan hati menjadi topik sentral
hidup dan kehidupan umat manusia. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa alat
indera manusia merupakan jendela "ilmu pengetahuan".
E.
Tahap-Tahap
Perkembangan Psikologi Anak Didik
Menurut Jean
Jacques Rousseau (1712 s/d 1778), bahwa perkembangan fungsi dan kapasitas
kejiwaan manusia berlangsung dalam lima tahapan, yaitu:
a.
Tahapan
perkembangan masa bayi (sejak lahir 2 tahun) Dalam tahap ini perkembangan
pribadi didominasi oleh perasan. Perasaan senang dan tidak senang selalu
berkembang karena adanya stimuli lingkungannya.
b.
Tahapan
perkembangan masa kanak-kanak (2 s/d 12 tahun ) Dalam tahap ini, perkembangan
pribadi anak dimulai dengan makin berkembangnya fungsi-fungsi indera anak untuk
mengadakan pengamatan. Bahkan sering dikatakan bahwa pekembangan setiap aspek
kejiwaan anak pada masa ini sangat didominasi oleh pengamatannya. Pada
masa-masa ini, sebaiknya kita mengadakan bimbingan dan pembinaan fungsi dari
indera, yaitu untuk mengetahui kelebihan apa yang dimiliki anak didik berdasar
pada perkembangan pengamatannya. Maka hendaknya melatih anak didiknya,
misalnya, telinga digunakan untuk mendengarkan kalam-kalam Allah, mata
digunakan untuk muthola'ah dan munadhoroh (untuk studi dan meneliti), mulut
kita gunakan untuk bertasbih dan berdzikir pada Allah, dan seterusnya.
c.
Tahapan
perkembangan masa pre-adolesen (12 s/d 15 tahun) Pada tahap ini, perkembangan
fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Dengan adanya
pertumbuhan sistem syaraf serta fungsi pikir, maka anak mulai kritis dalam
menanggapi suatu ide atau pengetahuan dari orang lain.
d.
Tahapan
perkembangan masa adolesen (15 s/d 20 tahun) Dalam tahap perkembangan yang
keempat ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan seksual yang
kuat. Masamasa seperti inilah yang dalam bahasa Al-Qur'an disebut masa
"zinah” (masaberhias). Karena pada masa ini seseorang mulai tertarik kepada
orang yang berlainan jenis.
e.
Masa
pematangan diri (setelah umur 20 tahun) Dalam tahap ini, perkembangan fungsi
kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya tiga macam tujuan
hidup pribadi, yaitu pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok,
pemuasan keinginan masyarakat. Semua itu, akan direalisasikan oleh individu
tersebut dengan belajar mengandalkan kehendaknya. Di bawah ini akan diuraikan
tentang perkembangan pribadi secara luas dari berbagai pendapat. Pentahapan
perkembangan itu sebagai berikut :
1.
Tahap
kematangan pre-natal (antara umur 2,5 bulan s/d 9 bulan)
2.
Tahap
perkembangan vital (sejak lahir-umur 2 tahun)
a)
Perkembangan
motoric
b)
Perkembangan
psikologid
c)
Prkembangan
fungsi-fungsi sosial
3.
Tahap
perkembangan ingatan (umur 2 s/d 3 tahun)
4.
Tahap
perkembangan ke-aku-an (umur 3 s/d 4 tahun)
5.
Tahap
perkembangan pengamatan (umur 4 s/d 6 tahun)
6.
Tahap
perkembangan intelektual (umur 6-12 tahun atau 7-13 tahun)
7.
Tahap
perkembangan pra remaja (umur 13 s/d 16 tahun)
8.
Tahap
perkembangan remaja (antara umur 16-20 tahun)
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hamid Zaih Husen. 1987.
Pendidikan Anak Menurut Islam,
Jakarta. Pustaka Alami Gunarsa,
Singgih D (ed), 1983.
Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja,
Jakarta : BPK Gunung Mulia Ishom
Achmadi ZE, Moch., Drs.,
Kaifa Nurabbi Abnaa’anaa
EmoticonEmoticon